Tinggalkan komentar

Contoh Proposal Skripsi

Etika Politik Dalam Kepemimpinan Umar Ibn Khathab

 

  1. A.      Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai mahluk sosial membutuhkan pengetahuan dan perangkat hidup bersama secara jelas dalam mewujudkan suatu kehidupan yang dapat dihayati sebagai suatu yang wajar dan menjadi kebutuhan. Sesuai dengan penilaiannya, manusia dapat menentukan sikapnya untuk mengakui bahwa menolaknya. Oleh karena itu dalam menentukan sikapnya manusia harus memiliki etika yang secara umum mempertanyakan prinsip-prinsip dasar yang berlaku bagi segenap tindakan manusia.

Dalam kehidupan modern, persoalan etika dan moral sering menjadi perbincangan publik. Tinjauan filsafat tentang makna dan definisi filsafat etika dan moral sangat beragam. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa penggunaan “etika” dan “moral” selalu menerangkan perbandingan antara nilai baik dan buruk, yang berlaku bagi semua bidang kehidupan manusia.

Sedangkan secara politis manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara jelas membutuhkan batasan-batasan bagi mereka yang memperoleh kepercayaan untuk mengatur kehidupan bernegara. Dengan demikian, etika politik sering dimaknai sebagai mempertanyakan tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia dan bukan sekedar sebagai warga negara terhadap negaranya. (Suseno, 2001:8).

Kedatangan Nabi Muhammad SAW selain mendapat tantangan juga mendapat pandangan positif dari masyarakat Arab, sejak beliau melakukan migrasi dari Makkah ke Madinah.beliau mulai mendapat tempat di hati masyarakat, sehingga agama Islam dapat berkembang dengan pesat dan berhasil membangun suatu masyarakat utama.

Jika pada masa Nabi, perkembangan Islam yamg begitu pesat hanya berada di Jazirah Arab saja, setelah wafatnya Nabi, wilayah kekuasaan Islam mengalami perluasaan secara signifikan baik Persia di sebelah Timur maupun Mesir di sebelah Barat. Hal tersebut juga didorong oleh adanya kekosongan kepemimpinan pasca pemerintahan Nabi serta keperluan adanya kekuasaan di daerah-daerah taklukan. Maka pada masa al-Khulafa al-Rasyidun merupakan awal bangkitnya pemerintahan Islam, tetapi lambat laun karena pemahaman yang berbeda tentang tatanan pemerintahan yang hendak dibangun sehingga pusat pemerintahan berpindah dari satu kota ke kota lain.

Pola dasar pemahaman pada masa Nabi dan al-Khulafa al-Rasyidun memberikan tatanan politik tersendiri yang meyakini asfek kehidupan saecara langsung terkait dengan nilai dasar tauhid. Nabi sendiri pada saat itu berfungsi selaku pemimpin agama dan pemimpin politik karena dalam pandangan tauhid tidak ada pemisahan agama dan politik. Penataan masyarakat pada masa Nabi banyak diilhami oleh ajaran-ajaran agama dan bimbingan sang Khaliq, selain itu juga sifat-sifat yang tertanam dalam diri nabi juga terwarisi kepada sahabat-sahabatnya yang lebih dikenal dengan al-Khulafa al-Rasyidun.

Pada hari-hari terakhir hidupnya, khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq sibuk betanya pada banyak orang bagaimana pendapatmu tentang Umar? Hampir semua orang menyebut Umar adalah seorang yang keras, namun jiwanya sangat baik. Setelah itu, Abu Bakar meminta Usman bin Affan untuk menuliskan surat wasiat bahwa penggantinya kelak adalah Umar. Tampaknya Abu Bakar khawatir jika umat Islam akan berselisih pendapat bila tidak menuliskan wasiat tersebut.

Bicara soal keadilan, secara jelas sangat tercermin pada kepemimpinan Umar bin Khatab. Hal ini terbukti ketika putra Amr bin Ash (Gubernur Mesir) berpacu dengan penduduk setempat, lalu mereka berselisih dalam menentukan pemenangnya, putra Amr bin Ash marah dan memukul orang Mesir tadi seraya berkata: “Aku ini putra dua orang yang mulia”. Mendapat perlakuan seperti itu orang Mesir tersebut mengadu kepada khalifah Umar bin Khathab. Dengan nada garang Umar memanggil Gubernur dan anaknya, lalu menyuruh orang Mesir memukul Gubernur Amr bin Ash, dengan demikian putranya tidak berani lagi sewenag-wenang. Sejak kapan kamu memperbudak manusia padahal mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan bebas merdeka, bentak Umar kepada Amr (Qardhawy, 1999 :  55).

Umar melihat seekor keledai kepayahan membawa batu bata, lalu beliau menurunkan dua buah batu bata dari keledai itu. Datang wanita pemilik keledai mengatakan kepada Umar: “wahai Umar, apa urusanmu dengan keledai saya? Apakah kamu punya wewenang atasnya?” Umar menjawab: Apa yang menghalalngi saya dalam persoalan ini? Maksudnya tanggung jawab Umar mencakup hewan dan manusia (Qardhawy, 1999 :  55).

Begitu pula pemihakan para pejabat dalam menangani muamalah untuk mendapatkan sesuatu darinya, seperti dalam transaksi jual-beli, sewa-menyewa, kerja bagi hasil, perjanjian untuk mengolah lahan untuk dibagi hasilnya, atau bentuk transaksi lain termasuk merupakan hadiah yang tidak dibolehkan syara’. Oleh karena itulah jauh-jauh hari Umar Ibn Khathab r.a. telah membagi sama rata bagian untuk para stafnya yang mempunyai kredibilitas agama, memiliki sifat yang mulia dan tidak berkhianat. Kebijaksanaan yang diambil Umar dengan memberi mereka bagian sama rata semata-mata didasarkan kondisi pada masa itu, sebab mereka yang telah ditunjuknya adalah pejabat dengan mengemban tugas secara khusus yang pantas bagi suatu posisi, ketimbang alasan memihak atau berat sebelah pada suatu kelompok atau karena sebab lain. (Ibnu Taimiyah).

Cerminan khalifah Umar bin Khathab dalam menjalankan fungsinya sebagai pimpinan negara memang tidak lepas dari pengaruh ajaran agama dan sirah nabi dalam membangun tatanan masyarakat yang sesuai dengan syariat Islam dan prinsip umum bernegara, serta etika yang dilaksanakannya baik kepada rakyatnya maupun kepada negara-negara lain.

Dengan demikian penulis tertarik untuk membahas tema ETIKA POLITIK DALAM KEPEMIMPINAN UMAR IBN KHATHAB sebagai judul skripsi mengingat banyak nilai-nilai etika politik yang di bangun oleh khalifah Umar ibn Khathab. Ia telah mewarisi nilai-nilai berharga yang menjadi modal utama menata sebuah masyarakat dari kondisi anarkhis, tidak beradab menjadi masyarakat yang manusiawi dan sejahtera. Oleh karena itu, hal ini menjadi rujukan dalam menata masyarakat modern saat ini, mengingat banyak sistem pemerintahan yang tidak memiliki bingkai etika politik yang jelas.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat dalam latar belakang, penulis bermaksud membatasi ruang lingkup masalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan penelitian antara lain:

  1. Apa yang dimaksud dengan etika politik?
  2. Bagaimana kepemimpinan Umar Ibn Khathab dalam membangun etika politik?
  3. Apa saja nilai-nilai etika politik Umar Ibn Khathab yang relevan untuk saat ini?

 

  1. C.      Tujuan dan Kegunaan Penelitian
    1. Untuk mengetahui dan memperoleh pemahaman tentang etika politik dan pilar-pilar pendukungnya.
    2. Untuk mengetahui etika politik yang dibangun Khalifah Umar Ibn Khathab dalam menjalankan pemerintahannya.
    3. Untuk mengetahui nilai-nilai etika politik Umar Ibn Khathab yang relevan untuk saat ini?

Sedangkan secara umum, penelitian ini di samping bertujuan guna memenuhi ‘hasrat’ akademik sebagai syarat wajib lulus S1 juga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi upaya pembangunan dan pengembangan pengetahuan, terutama dalam bidang kajian  politik Islam.

Penulis juga berharap semoga penelitian ini  meski tak cukup representatif bisa turut memperkaya khazanah keilmuan.

 

  1. D.      Kerangka Pemikiran

Banyak orang yang membicarakan etika, seolah etika menjadi hal yang semestinya dilakukan oleh siapapun baik sebagai individu, kelompok maupun masyarakat secara luas. Etika seakan menjadi sesuatu yang harus dilakukan oleh siapapun.

Istilah etika berasal dari Yunani kuno. Kata ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti: tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap dan cara berfikir. Dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah adat kebiasaan. Dan arti yang terakhir inilah yang menjadi bentuk etika yang oleh filosof Yunani besar Aristoteles (384 SM – 322 SM) sudah dipakai untuk menunjukan moral. (Bartens, 1993:4).

Kata yang cukup dekat dengan etika etika adalah  moral, kata terakhir ini dari bahasa latin Mos (jamak: mores) yang berarti juga: kebiasaan, adat. Jadi etimologi kata etika sama dengan etimologi kata moral, karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan. Hanya bahasa asalnya berbeda, yang pertama berasal dari bahasa Yunani, sedangkan yang kedua berasal dari bahasa Latin. (Bartens, 1993:4).

Jhon P. Noman S. J. dalam bukunya General and Special Ethics “ Ethics is the science of the morality of human acts.” Kata etika sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari moralitas dari perbuatan manusia. Bahwa ethics disebut juga “moral philosophy” atau “philosopia moralis”. Sedangkan disebut morality adalah apa yang baik atau apa yang buruk, benar atau salah dengan menggunakan ukuran norma atau nilai (Widjaja, 1997:8). Etika merupakan cabang dari filsafat. Etika mencari kebenaran dan sebagai filsafat ia mencari keterangan kebenaran sedalam-dalamnya. Sebagai tugas tertentu bagi etika, ia mencari ukuran baik buruknya bagi tingkah laku manusia. Etika hendak mencari tindakan manusia yang baik.

Sedangkan etika Islam adalah tingkah laku manusia yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan, ucapan dan pikiran yang sifatnya membangun, tidak merusak lingkungan dan tidak pula merusak tatanan sosial budaya serta tidak pula bertentangan dengan ajaran Islam, namun berlandaskan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah (Yatim Abdullah, 2006: 319). Dasar etika Islam itu sendiri bersifat membimbing, memandu, mengarahkan dan membiasakan masysrakat hidup sesuai dengan norma sopan santun yang berlaku dalam masyarakat. Etika Islam menggambarkan keadaan orang berpedoman untuk membimbing manusia agar berjalan dengan baikberdasarkan pada nilai-nilai yang berkembang di masyarakat dan mengacu pada sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat.

Menurut Miriam Budiardjo dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Politik, politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan menjalankan tujuan-tujuan itu. (Miriam Budiardjo, 2000:8).

Dalam Islam, politik itu dikenal dengan istilah “siyasah atau siyasat” yang mengandung arti mengatur, mengurus atau membuat kebijaksanaan dalam literatur Islam. Sebagaimana dikemukakan Ibnu Al-Qayyim yang dinukilnya dari Ibnu Aqil, siyasat  adalah setiap langkah perbuatan yang membawa manusia dekat kepada kemashlahatan dan terhindar dari kerusakan, walaupun Rasul tidak menetapkannya dan Allah tidak mewahyukannya. Sedangkan Khallaf mendefinisikan sebagai pengolahan masalah-masalah umum bagi negara Islam yang menjamin terealisasinya kemaslahatan dan terhindar dari kemadharatan dengan tidak melanggar ketentuan syariat yang umum. Jadi, siyasah adalah membuat kebijaksanaan untuk kemaslahatan umat yang tidak bertentangan dengan substansi ajaran dasar dan pokok syariat Islam (Suyuti Pulungan, 1994:8).

Siyasah diambil dari kata سياسة يسوس ساس  yang bermakna mengatur, mengendalikan, mengurus atau membuat keputusan. Sedangkan menurut terminologi, sebagaimana dikutip oleh A. Djazuli (2003: 41) dari pendapat Ahmad Fathi Bahantsi, bahwa siyasah adalah:

تدبيرمصالح العباد على وفق الشرع

“ pengurusan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan syara”

Menurut ajaran Khomeini, dalam dimensi “moral dan politik”, penegakkan tatanan politik yang diatur oleh norma-norma Islam bukanlah tujuan itu sendiri, melainkan jalan untuk berbuat baik melalui penciptaan lingkungan sosial yang mendorong praktek spiritual melalui penerapan peraturan Tuhan.

 

  1. E.       Langkah-Langkah Penelitian

Untuk mencapai tujuan penelitian  tersebut diperlukan langkah-langkah sistematis sebagai berikut:

  1. Metode Penelitian

Dalam penulisan penelitian ini penulis menggunakan metode library reseach (studi kepustakaan), yaitu suatu metode pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap sumber-sumber penelitian, baik berupa buku, makalah-makalah, paper, artikel, ‘bunga rampai’ pemikiran (antologi), atau karya-karya intelektual lainnya dalam berbagai bentuk yang ada sangkut pautnya dengan obyek penelitian ini.

  1. Sumber Data

Mengenai sumber-sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, penulis membaginya menjadi dua bagian, yaitu:

  1. Sumber data primer, yaitu sumber data utama penelitian. Dalam hal ini, yang dijadikan rujukan utama adalah literatur mengenai perkataan dan tindakan Umar Ibn Khathab mengenai kepemimpinannya dalam menjalankan pemerintahan yang dilakukan dengan etika politik pada waktu itu.
  2. Sumber data sekunder, yaitu sumber data penunjang, baik berupa buku, makalah, paper atau karya-karya intelektual lainnya dalam berbagai bentuk yang ada sangkut pautnya dengan obyek penelitian ini

 

  1. Tekhnik Pengumpulan Data

Penelitian ini merupakan penelitian perpustakaan (library research) yang menggunakan teknik book survey (survey pustaka), yaitu suatu metode pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap sumber-sumber penelitian, baik berupa buku, -terutama sumber primer- makalah-makalah, paper, artikel, ‘bunga rampai’ pemikiran (antologi), atau karya-karya intelektual lainnya dalam berbagai bentuk yang ada sangkut pautnya dengan obyek penelitian di atas.

4.   Analisis Data

Selanjutnya, setelah data-data penelitian itu terkumpul, penulis mengklasifikasikannya sesuai urutan tema dan kaitannya dengan topik penelitian. Setelah itu, barulah kemudian penulis menganalisisnya dengan menggunakan metode serta teknik penelitian yang telah disebutkan di atas.

Dalam hal ini langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  1. Inventarisasi data, yaitu proses mengumpulkan data.
  2. Identifikasi data, yaitu penelitian terhadap data yang telah terkumpul.
  3. Unitisasi, yaitu data-data yang ada diklasifikasikan berdasarkan kerangka pemikiran yang ada.
  4. Kategorisasi data, yaitu penyusunannya berdasarkan urutan masalah dan tujuan penelitian.
  5. Interprestasi data, yaitu menempatkan berbagai data tersebut ke dalam bagian teori yang ada.
  6. Membuat kesimpulan.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: